Mengombinasikan Algoritma Optimasi Kecerdasan Buatan, Analisis Elemen Hingga Lanjutan, dan Visi Keberlanjutan: Trisula Tim Brotoseno Digdaya UGM Sapu Bersih Fondasi Days 2026
Berita DTSBerita MSTTBerita MTPBABerita MTSBerita TILBerita TSBerita TSDAFoto DTSLPrestasi MahasiswaRilis Berita Senin, 8 Juni 2026
Mengombinasikan Algoritma Optimasi Kecerdasan Buatan, Analisis Elemen Hingga Lanjutan, dan Visi Keberlanjutan: Trisula Tim Brotoseno Digdaya UGM Sapu Bersih Fondasi Days 2026
SURAKARTA – Arena kompetisi teknik sipil nasional kembali menjadi saksi bisu dominasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Kali ini, panggung kemenangan berada di Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam ajang bergengsi Fondasi Steel Bridge Competition 2026. Tampil dengan formasi “Superteam” bernama Tim Brotoseno Digdaya, delegasi UGM ini tidak hanya sekadar menang, tetapi mendemonstrasikan kelas yang berbeda dengan memborong tiga penghargaan sekaligus: Juara 1, Juara Kategori Jembatan Tepat Rancang, dan Juara Kategori Presentasi Terbaik.
Di balik kemenangan absolut ini, terdapat trisula yang beranggotakan tiga mahasiswa cemerlang: Rizki Haikal Pradana dan Emmanuelle Levy Heryanto (keduanya merupakan punggawa Tim Perancang Brotoseno, Juara KJI 2025 Kategori Jembatan Pelengkung), serta Muhammad Auguzt Riansyah (dari Tim Digdaya, Juara KJI 2025 Kategori Jembatan Rangka).
Sinergi Dua Kutub Desain
Nama “Brotdig” lahir dari fusi antara dua filosofi struktur yang berbeda—Brotoseno dan Digdaya. Penggabungan ini menciptakan dinamika kerja yang luar biasa. Kepiawaian Haikal dan Levy dalam analisis matematis dan geometri pelengkung yang kompleks, berpadu sempurna dengan ketelitian Auguzt dalam meracik kekakuan struktur rangka dan efisiensi eksekusi fabrikasi. Pembagian peran tiga kepala ini menghasilkan harmoni teknik yang tidak mampu disaingi oleh tim lain.
Kecanggihan Optimasi dan Validasi Mikro Finite Element
Tim Brotdig meninggalkan metode trial-and-error manual, beralih pada pendekatan inovatif yang mengotomatiskan alur kerja melalui pemrograman komputasi dan teknik optimasi metaheuristik. Algoritma yang mereka kembangkan mampu menyimulasikan ribuan iterasi geometri untuk mencari profil paling ringan namun paling kaku.
Lebih mencengangkan lagi, analisis mereka tidak berhenti pada struktur makro. Untuk memastikan jembatan tidak mengalami kegagalan di titik kritis, tim melakukan validasi menggunakan model mikro sambungan (micro-modeling connections) berbasis Finite Element Analysis (FEA). Melalui pemodelan elemen hingga ini, distribusi tegangan (stress distribution) pada setiap pelat buhul dan baut dievaluasi secara visual dan matematis, memastikan efisiensi material yang ekstrem namun tetap aman.
Presisi Mutlak: Teori dan Realitas yang Beradu
Puncak pembuktian rekayasa Tim Brotdig tercermin pada peraihan gelar Jembatan Tepat Rancang. Dalam kategori yang menilai keselarasan antara perhitungan teoritis dan pengujian fisik, tim mencatatkan rekor akurasi yang luar biasa. Saat jembatan model diuji dengan beban rencana, lendutan (deflection) yang terjadi di lapangan tercatat sebesar 2.63 mm—hanya berselisih tipis dari prediksi rencana sebesar 2.49 mm. Margin error yang sangat minim ini menjadi yang terbaik di antara seluruh finalis, membuktikan bahwa pemodelan digital yang mereka susun mampu merepresentasikan perilaku struktur di dunia nyata dengan tingkat kepercayaan yang hampir sempurna.
Membangun Jembatan, Mewujudkan SDGs
Visi Tim Brotdig juga memiliki pijakan kuat pada Sustainable Development Goals (SDGs). Optimalisasi material yang sangat ekstrem merupakan manifestasi dari SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dengan menekan penggunaan baja berlebih tanpa mengurangi kekakuan, desain ini secara langsung menawarkan solusi untuk memangkas jejak karbon konstruksi. Selain itu, ketahanan struktur yang tervalidasi mencerminkan komitmen terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, di mana jembatan dirancang tidak hanya efisien, tetapi juga tangguh demi keselamatan publik.
Bicara Data, Memukau Dewan Juri
Membawa desain yang sarat akan kompleksitas komputasi ke hadapan juri tentu bukan perkara mudah. Namun, tim ini berhasil mengamankan Juara Kategori Presentasi Terbaik. Ketiga anggota tim tampil dengan kohesi yang memukau, menerjemahkan kerumitan algoritma dan contour FEA menjadi narasi visual yang logis dan meyakinkan. Mereka memaparkan cost-to-strength ratio dengan data yang tak terbantahkan, membuktikan bahwa karya mereka bukan sebatas teori, melainkan mahakarya engineering yang siap direalisasikan.
Bagi Haikal, Levy, dan Auguzt, sapu bersih gelar di Fondasi Days 2026 ini adalah validasi paripurna dari kolaborasi mereka. Lewat algoritma, analisis elemen hingga, dan presisi lendutan yang nyaris sempurna, Tim Brotdig tidak hanya merangkai baja, tetapi sedang merangkai standar baru bagi masa depan teknik sipil Indonesia. (Sumber: Tim Brotoseno Digdaya/humas DTSL)




