
“Dulu kami hampir kehilangan harapan. Selama 14 tahun bendung ini rusak, sawah kami kekurangan air, dan kehidupan masyarakat ikut terpuruk. Alhamdulillah, sekarang harapan itu hidup kembali.”
Dengan mata berkaca-kaca, Kepala Desa Limboro, Kifli, mengenang perubahan besar yang dialami desanya. Bagi masyarakat Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, keberhasilan memperbaiki bendung irigasi bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi titik balik kebangkitan masyarakat menuju kemandirian dan ketahanan pangan.
Kisah tersebut bermula dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Tadulako (UNTAD) tahun lalu yang dibimbing oleh dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL), Fakultas Teknik UGM. Mahasiswa KKN berhasil menginisiasi gerakan gotong royong masyarakat untuk memperbaiki bendung irigasi yang telah rusak selama sekitar 14 tahun.
Tanpa alat berat dan tanpa anggaran yang besar, masyarakat bersama mahasiswa bergandengan tangan memperbaiki bendung yang selama bertahun-tahun terbengkalai. Hasilnya, sekitar 43 hektare sawah kembali memperoleh air irigasi. Pada musim panen pertama setelah bendung berfungsi, produktivitas padi mencapai hingga 8 ton per hektare, menghadirkan harapan baru bagi para petani.
Dampak keberhasilan tersebut tidak berhenti pada sektor pertanian. Industri kecil di desa ikut bergeliat. Penggilingan padi kembali beroperasi, usaha penyedia sarana produksi pertanian berkembang, aktivitas perdagangan meningkat, dan perputaran ekonomi desa mulai tumbuh seiring pulihnya produksi pertanian.
Yang paling membanggakan, menurut Kifli, adalah bangkitnya kembali semangat gotong royong masyarakat.
“Selama bertahun-tahun kami menunggu bantuan. Ternyata perubahan justru dimulai ketika masyarakat bergerak bersama. Mahasiswa KKN yang datang jauh dari Yogyakarta mengajarkan kami untuk kembali percaya pada kekuatan kebersamaan,” ungkapnya.
Kebangkitan tersebut juga menghidupkan kembali kelembagaan lokal. Lembaga adat pengelola irigasi kembali aktif di bawah kepemimpinan Bangunasa, tokoh adat yang mengatur tata kelola air dan tata budi daya pertanian berdasarkan nilai-nilai budaya lokal. Peran kelembagaan adat ini menjadi modal sosial yang penting untuk menjaga keberlanjutan sistem irigasi sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat.
Keberhasilan di Desa Limboro menjadi salah satu alasan mengapa pada bulan Juli tahun ini Program KKN Kolaborasi UGM–UNTAD kembali dilaksanakan di Kecamatan Banawa Tengah. Sebanyak 30 mahasiswa UGM dan 30 mahasiswa UNTAD diterjunkan untuk bekerja bersama masyarakat di Desa Towale dan Desa Limboro.
Kehadiran mahasiswa tahun ini bukan sekadar mengulang program sebelumnya, melainkan melanjutkan proses pemberdayaan masyarakat yang telah dimulai. Berbagai program telah disiapkan, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan perikanan dan rumput laut, pemberdayaan UMKM, konservasi lingkungan, penguatan kelembagaan desa, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Kisah bendung irigasi Limboro hanyalah satu dari puluhan program yang telah dan sedang dilaksanakan mahasiswa KKN UGM–UNTAD di Donggala. Di balik setiap program terdapat proses belajar bersama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat untuk menemukan solusi yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal.
Bagi DTSL FT UGM, KKN bukan hanya wahana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga laboratorium nyata penerapan ilmu keteknikan untuk menjawab persoalan masyarakat. Keberhasilan Limboro menunjukkan bahwa ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan gotong royong, kepemimpinan lokal, dan semangat kolaborasi, perubahan yang berkelanjutan dapat diwujudkan.
Panen raya kedua yang akan berlangsung pada bulan Juli ini menjadi simbol bahwa benih yang ditanam mahasiswa KKN tahun lalu telah tumbuh menjadi harapan baru bagi masyarakat. Harapannya, kolaborasi UGM, UNTAD, pemerintah daerah, dan masyarakat Donggala akan terus melahirkan inovasi-inovasi yang memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan, serta membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan.
(sumber: humas DTSL)