Laboratorium Manajemen Proyek Konstruksi (MPK) DTSL FT UGM Uji Coba Modul Pembelajaran Alat Berat untuk Pemula
Berita DTSBerita MSTTBerita MTPBABerita MTSBerita TerbaruBerita TILBerita TSBerita TSDAFoto DTSLRilis Berita Jumat, 28 Agustus 2026
Laboratorium MPK DTSL FT UGM Uji Coba Modul Pembelajaran Alat Berat untuk Pemula
Laboratorium Manajemen Proyek Konstruksi (MPK), Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan diseminasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa modul pembelajaran alat berat pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium MPK tersebut diikuti oleh 28 peserta yang terdiri atas mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2). Tim PkM ini diketuai oleh Dr. Ir. Angga Trisna Yudhistira, S.T., M.Eng., IPM., ACPE., dengan anggota tim Nandhita Noorviana Puspita Dewi, M. Hamdan Katsir, Ikhsanudin, dan Yovi Maulana dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tahap uji coba (trial) sebelum model pembelajaran tersebut diterapkan kepada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang konstruksi. Model pembelajaran ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih visual dan praktis dalam memahami pengelolaan pekerjaan konstruksi, khususnya terkait penggunaan dan kombinasi alat berat. Sasaran siswa SMK dipilih karena pengetahuan mengenai alat berat tidak hanya diperlukan oleh engineer, tetapi juga oleh pengawas lapangan, foreman, bahkan operator alat berat yang perlu memahami dasar-dasar pengoperasian maupun pengelolaan alat berat.
Model pembelajaran yang diperkenalkan menggunakan media visual berupa papan dengan replika alat berat berbentuk magnet yang dapat ditempel dan dipindahkan pada media yang menggambarkan kondisi kontur lahan. Media tersebut digunakan untuk membantu peserta memvisualisasikan kondisi pekerjaan, termasuk volume galian dan timbunan, sekaligus menentukan urutan (sequence) pekerjaan dan kombinasi alat berat yang paling sesuai.



Dalam pelaksanaannya, peserta terlebih dahulu melakukan analisis berdasarkan modul dan worksheet yang telah disiapkan. Dalam proses analisis tersebut, peserta menentukan alur pekerjaan serta kombinasi alat berat yang paling optimal, termasuk memperkirakan waktu siklus (cycle time) yang sesuai. Papan dengan media magnet berbentuk alat berat kemudian digunakan sebagai alat bantu untuk memvisualisasikan hasil analisis tersebut. Peserta dapat menempatkan dan mengatur posisi alat berat sesuai dengan alur pekerjaan yang telah ditentukan, sehingga hubungan antara tahapan pekerjaan, kombinasi alat berat, dan waktu siklus dapat lebih mudah dipahami.
Selain simulasi pembelajaran, kegiatan diseminasi juga dikemas dalam bentuk kompetisi. Peserta dibagi ke dalam lima tim dan ditantang untuk menentukan kombinasi alat berat yang paling ideal berdasarkan kondisi pekerjaan yang diberikan. Penentuan kombinasi tersebut tidak hanya mempertimbangkan jenis dan jumlah alat berat, tetapi juga durasi pelaksanaan, efektivitas pekerjaan, serta efisiensi biaya. Peserta dituntut untuk mencari kombinasi alat yang tidak hanya baik secara perhitungan, tetapi juga realistis untuk diterapkan pada kondisi pekerjaan di lapangan.
Ketua tim kegiatan, Dr. Ir. Angga Trisna Yudhistira, S.T., M.Eng., IPM., ACPE., menjelaskan bahwa model pembelajaran tersebut dirancang sebagai media pembelajaran dasar yang diharapkan dapat digunakan oleh para pelaku konstruksi untuk mempelajari prinsip-prinsip fundamental pengoperasian dan pengelolaan alat berat. Hal ini sangat penting mengingat kesalahan dalam perencanaan dan perhitungan kebutuhan alat berat dapat mengakibatkan kerugian serta keterlambatan proyek yang signifikan. Selain itu, hampir seluruh proyek konstruksi memerlukan alat berat, terutama pada pekerjaan galian dan timbunan atau perataan lahan.
“Model ini kami buat untuk pembelajaran dasar. Harapannya, para calon pengawas lapangan, foreman, bahkan operator dapat memahami cara menentukan alat berat, menyusun urutan pekerjaan, dan menilai apakah kombinasi alat yang dipilih sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Angga. Ia juga berharap model pembelajaran yang dikembangkan dapat memberikan manfaat dan dimanfaatkan secara luas. Sebagai tahap pilot project, modul pembelajaran ini akan disosialisasikan di SMK dengan konsentrasi keahlian konstruksi bangunan, mengingat banyak lulusan SMK yang berprofesi sebagai pengawas lapangan di sektor konstruksi.
“Harapannya model ini bisa digunakan dengan baik dan dapat membantu siswa SMK dalam memahami pembelajaran alat berat. Semoga kegiatan ini juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan di bidang teknik sipil,” ujar Angga.
Antusiasme peserta terlihat selama pelaksanaan diseminasi. Salah satu peserta sekaligus anggota tim yang berhasil meraih juara dalam kegiatan tersebut, Axsyal Adita Nugraha, menilai model pembelajaran yang digunakan memberikan pengalaman belajar yang menarik. “Seru dan menarik. Ada visualisasinya dan juga praktiknya, jadi lebih mudah untuk memahami materi,” ungkap Axsyal. Hal serupa disampaikan oleh Dewi, salah satu peserta yang memiliki latar belakang di luar bidang Manajemen Proyek Konstruksi. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia konstruksi. “Menurut saya seru banget. Bagi yang bukan dari latar belakang MPK, kegiatan ini seru dan mudah dimengerti. Menambah wawasan juga untuk kami, dan karena materinya berkaitan dengan geoteknik, wawasan mengenai geoteknik juga jadi bertambah,” tutur Dewi.
Melalui kegiatan diseminasi ini, tim pengabdian berharap model pembelajaran tersebut dapat membantu siswa memahami konsep penggunaan alat berat secara lebih konkret. Visualisasi melalui media magnet diharapkan dapat memudahkan siswa membayangkan kondisi pekerjaan, memahami waktu siklus, serta menilai apakah kombinasi alat berat yang dipilih realistis dan efektif. Diseminasi ini juga menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan model sebelum diterapkan kepada siswa SMK. Melalui uji coba bersama mahasiswa S1 dan S2, tim dapat memperoleh berbagai masukan untuk meningkatkan kualitas media, modul, worksheet, maupun mekanisme pembelajaran yang dikembangkan.
“Semoga nantinya ketika diterapkan di sekolah, program ini dapat berjalan lancar. Siswa SMK dapat memahami materi dengan baik dan para guru juga dapat menerima model ini secara positif, sehingga model pembelajaran ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Nandhita, salah satu anggota tim.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari upaya Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM, dalam mengembangkan pembelajaran konstruksi yang lebih interaktif, kontekstual, mudah dipahami, dan dekat dengan kondisi pekerjaan di lapangan. Pengembangan model ini turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penerapan media pembelajaran yang interaktif dan kontekstual, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan media pembelajaran alat berat yang inovatif, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penyediaan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri konstruksi. (Sumber: humas DTSL)












