
Upaya mempertemukan kebutuhan penanggulangan bencana di lapangan dengan peran perguruan tinggi menjadi salah satu fokus kunjungan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Rabu (16/9). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang telah dilakukan secara daring.
Melalui pertemuan secara langsung, DTSL FT UGM berkesempatan berdiskusi dengan pihak BPBD Kabupaten Pacitan mengenai kondisi dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana, sekaligus menjajaki ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan.
DTSL FT UGM dalam kunjungan tersebut diwakili oleh Dr. Benazir, Ketua Program Studi Magister Teknik Pengelolaan Bencana Alam (MTPBA), dan Dr. Karlina, Ketua Program Studi Sarjana Teknik Sipil. Keduanya diterima oleh Wahyu Fajar Yuliardi, S.E., M.M. dan Yagus Triarso, S.Ak. dari BPBD Kabupaten Pacitan.



Dalam diskusi, kedua pihak membahas pentingnya membangun pola kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pendekatan “belanja masalah”, yaitu mengidentifikasi berbagai persoalan nyata yang dihadapi di lapangan untuk kemudian menjadi bahan pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan kegiatan akademik di DTSL FT UGM.
Pendekatan tersebut membuka peluang agar kegiatan akademik dapat lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dan institusi di daerah. Di sisi lain, BPBD dapat memperoleh ruang untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan pihak akademisi dalam menggali alternatif pendekatan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.
Sejumlah isu kebencanaan di Kabupaten Pacitan menjadi bagian dari pembahasan, antara lain kejadian tanah longsor yang perlu mendapat perhatian terutama pada musim hujan, kondisi geologi dan karakteristik wilayah, potensi gempa bumi, serta tantangan terkait kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Kondisi wilayah pesisir, sungai, serta kebutuhan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi bawah permukaan di sejumlah lokasi juga turut dibahas sebagai bagian dari kebutuhan pengetahuan dan data pendukung dalam pengelolaan risiko bencana.
Selain aspek teknis, diskusi turut menyoroti berbagai upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana yang telah dikembangkan, termasuk Desa Tangguh Bencana (Destana), edukasi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), serta program-program kesiapsiagaan bencana. Perhatian terhadap kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan khusus juga menjadi bagian dari pembahasan, termasuk keberadaan unit pelayanan bagi penyandang disabilitas dalam konteks kebencanaan.
Dari sisi pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat, terdapat peluang pengembangan kegiatan seperti magang mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Berbagai isu yang dihadapi di lapangan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus membuka ruang bagi pengembangan penelitian dan kegiatan akademik yang relevan.
Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menerjemahkan komunikasi yang telah terjalin menjadi bentuk kerja sama yang lebih terstruktur. Salah satu tindak lanjut yang dibahas adalah penjajakan penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara DTSL FT UGM dan BPBD Kabupaten Pacitan.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, DTSL FT UGM dan BPBD Kabupaten Pacitan diharapkan dapat bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan, mengembangkan kegiatan yang relevan, serta memperkuat hubungan antara dunia akademik dan praktik penanggulangan bencana di daerah. Upaya tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi.