
Laboratorium Manajemen Proyek Konstruksi (MPK), Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penerapan model pembelajaran alat berat bagi siswa SMKN 2 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 10 September 2026, di Ruang Konstruksi Gedung dan Sanitasi SMKN 2 Yogyakarta dan diikuti oleh 27 siswa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan model pembelajaran alat berat yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif, visual, dan kontekstual. Model pembelajaran tersebut memanfaatkan papan simulasi dengan alat berat berbentuk magnet yang dapat ditempel dan dipindahkan untuk menggambarkan kondisi pekerjaan di lapangan.
Melalui media tersebut, siswa diajak memahami berbagai aspek dalam pekerjaan konstruksi, mulai dari kondisi lahan, volume pekerjaan galian dan timbunan, pemilihan jenis dan jumlah alat berat, hingga penyusunan kombinasi alat berat yang optimal.
Ketua tim pengabdian, Dr. Ir. Angga Trisna Yudhistira, S.T., M.Eng., IPM., ACPE., menjelaskan bahwa model pembelajaran tersebut dikembangkan untuk menghadirkan metode belajar yang lebih interaktif bagi siswa.


“Karena anak-anak sekarang kalau diajar secara klasikal bisa bosan. Jadi harus ada model yang interaktif. Di kampus juga sama. Kalau belajar secara klasikal, mahasiswa bisa mencari sendiri di internet. Tetapi kalau kita memberikan simulasi dan cerita, mereka bisa memahami, ‘oh, ternyata caranya seperti ini’,” ujar Angga. Menurut Angga, pembelajaran melalui simulasi dapat memberikan pengalaman yang berbeda karena siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dapat melihat dan mencoba secara langsung bagaimana suatu pekerjaan konstruksi direncanakan.
Dalam pelaksanaannya, siswa terlebih dahulu mendapatkan materi dan worksheet sebagai dasar untuk melakukan analisis. Selanjutnya, siswa menentukan jenis dan jumlah alat berat yang diperlukan berdasarkan kondisi pekerjaan yang diberikan. Hasil analisis kemudian divisualisasikan melalui papan simulasi dengan menempatkan alat berat pada posisi dan urutan pekerjaan yang telah dirancang.
Kegiatan juga dikemas dalam bentuk kompetisi. Sebanyak 27 siswa dibagi menjadi lima tim dan diberikan tantangan untuk menentukan kombinasi alat berat yang paling optimal. Setiap tim dituntut untuk mempertimbangkan waktu pelaksanaan, efektivitas pekerjaan, efisiensi biaya, serta kesesuaian kombinasi alat dengan kondisi lapangan. Angga juga menyampaikan apresiasinya kepada pihak SMKN 2 Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada tim UGM untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari kerja sama yang berkelanjutan antara UGM dan SMKN 2 Yogyakarta.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah. Kami juga mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan. Kami berharap ke depan kita bisa bekerja sama lebih lanjut,” ujarnya. Selain itu, Ia menjelaskan bahwa pemilihan SMKN 2 Yogyakarta sebagai lokasi penerapan model juga memiliki nilai historis bagi tim pengabdian. UGM sebelumnya pernah menggunakan SMK 2 Yogyakarta sebagai kampus, sehingga sekolah dipilih sebagai salah satu lokasi awal penerapan model.
Menurut Angga, model pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk siswa SMK, tetapi juga diharapkan dapat dikembangkan untuk pembelajaran konstruksi yang lebih luas. “Harapannya tidak hanya untuk SMK, tetapi juga untuk konstruksi pemula. Walaupun tidak melalui pendidikan S1, lulusan SMK juga bisa menjadi pengawas lapangan atau operator apabila memiliki kompetensi yang sesuai,” jelasnya.
Pihak SMKN 2 Yogyakarta menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Kepala SMKN 2 Yogyakarta, Moh Rokhis, menilai kehadiran tim UGM memberikan kesempatan pembelajaran yang berbeda bagi siswa.
“Ini kesempatan yang luar biasa bagi kalian. Kita kedatangan Pak Angga beserta timnya. Terima kasih banyak, Pak Angga. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan kembali pada waktu-waktu berikutnya dan kerja sama dengan SMK bisa terus dilanjutkan,” ujar Rokhis. Ia juga melihat adanya peluang untuk mengembangkan kegiatan serupa melalui program guru tamu. Menurutnya, guru tamu tidak selalu harus berasal dari dunia industri, tetapi juga dapat berasal dari perguruan tinggi sehingga siswa memperoleh wawasan langsung dari akademisi.
“Mungkin Pak Untung, Pak Arief, dan bapak-bapak guru yang lain nanti bisa membuat program untuk guru tamu. Guru tamu tidak harus dari industri, tetapi bisa juga dari perguruan tinggi. Ini menjadi satu kesempatan yang luar biasa,” tambahnya.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu peserta yang berhasil meraih juara dalam kompetisi, Zulfa Latifa, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.
“Sangat seru, saya menambah pengalaman. Dari kemarin belum ada materi seperti ini. Kegiatan ini membuat kita bisa membayangkan kalau nanti ada materi dari guru, kita sudah punya gambaran dan bisa selangkah lebih maju. Kalau ada teman yang belum tahu, kita juga bisa membagikan pengetahuan yang kita dapat,” ungkap Ulfa.
Menurut Ulfa, penggunaan media visual dan simulasi membuat materi mengenai alat berat lebih mudah dibayangkan. Pengalaman tersebut juga memberikan pengetahuan tambahan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap model pembelajaran alat berat dapat membantu siswa memahami proses pengambilan keputusan dalam pekerjaan konstruksi secara lebih konkret. Penggunaan media simulasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menghubungkan kondisi lapangan dengan pemilihan alat, urutan pekerjaan, waktu siklus, dan efisiensi pekerjaan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan dan penyempurnaan model pembelajaran sebelum diterapkan secara lebih luas. Masukan dari siswa dan guru menjadi bahan evaluasi bagi tim untuk meningkatkan kualitas media, materi, worksheet, serta mekanisme pembelajaran.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendukung SDG 4 – Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan metode pembelajaran yang interaktif dan kontekstual, SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pembekalan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja konstruksi, serta SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi media pembelajaran di bidang konstruksi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Dr. Ir. Angga Trisna Yudhistira, S.T., M.Eng., IPM., ACPE., bersama anggota tim Nandhita Noorviana, Puspita Dewi, M. Hamdan Katsir, Ikhsanudin, dan Yovi Maulana dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. (Sumber: humas DTSL)