Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM Matangkan Rencana Strategis 2026–2031 Bersama Pakar dan Mitra Industri
Berita DTSBerita MSTTBerita MTPBABerita MTSBerita TerbaruBerita TILBerita TSBerita TSDAFoto DTSL Jumat, 10 April 2026
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM Matangkan Rencana Strategis 2026–2031 Bersama Pakar dan Mitra Industri
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM kembali memperkuat langkah dalam menyusun strategi masa depan. Pada Rabu, 8 April 2026, jajaran pimpinan departemen menggelar rapat Advisory Board yang dilaksanakan secara hybrid. Pertemuan luring dilaksanakan di Gedung BMKG Jakarta, menjadi ruang diskusi hangat antara akademisi dan para praktisi di bidang industri teknik sipil.
Rapat ini menjadi momen penting bagi DTSL untuk mempertajam Rencana Strategis (Renstra) periode 2026–2031. Dengan tema besar “Blueprint of Excellence: Menuju 2031 Bersama”, fokus utamanya adalah bagaimana memastikan kurikulum dan riset di kampus berkesinambungan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan target yang jelas, yakni menjadikan DTSL sebagai institusi yang merakyat, mandiri, dan berkelanjutan.
Dalam diskusi tersebut, Pak Dandung dari Geoforce memberikan masukan yang sangat praktis. Beliau mendorong agar kolaborasi penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium, tapi juga mengangkat studi kasus nyata, seperti proyek perbaikan tanah di Tol Semarang-Demak. Geoforce bahkan siap mendukung pendanaan bagi dosen dan mahasiswa yang ingin menulis publikasi ilmiah berdasarkan pengalaman lapangan tersebut.
Pak Ferly dari Wika Beton menyatakan komitmennya untuk membuka peluang magang bersertifikat bagi sekitar 20 mahasiswa. Tak hanya itu, beliau juga menawarkan riset bersama mengenai beton rendah karbon (concrete inject low carbon). Inisiatif ini sangat krusial mengingat industri konstruksi masa depan dituntut untuk lebih ramah lingkungan.
Sektor transportasi pun ikut memberikan dukungan nyata. Pak Aditya dari LRT Jakarta menegaskan bahwa kerja sama yang sudah ada akan terus dilanjutkan dengan program magang rutin setiap tahunnya.
Dukungan fasilitas riset juga diperkuat melalui kolaborasi dengan BMKG yang menyatakan bahwa BMKG sangat terbuka bagi mahasiswa dan dosen DTSL yang ingin memanfaatkan data, peralatan, hingga fasilitas di tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang ada di Yogyakarta. Sinergi ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas riset-riset kebencanaan dan lingkungan di lingkungan kampus.
Selain urusan teknis, rapat ini juga membahas sisi pengabdian masyarakat. Prof. Suryo dari WIKA berbagi cerita sukses mengenai program CSR di Gunung Kidul. Lewat sentuhan teknik, lahan kering yang tadinya sulit ditanami kini bisa menghasilkan padi berkualitas tinggi. Beliau berharap kesuksesan ini bisa diikuti oleh mitra industri lainnya agar dampak keberadaan kampus benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil.
Selain itu, Prof. Rifa’i dan Prof. Iman menekankan pentingnya program Master by Research dan Doctor by Research. Mereka melihat bahwa banyak material lokal di Indonesia yang punya potensi besar untuk diteliti bersama industri. Masukan dari para praktisi ini nantinya akan diolah untuk memperbaiki kurikulum agar lulusan DTSL tidak hanya jago teori, tapi juga tangguh secara mental dan teknis.
Pertemuan di Jakarta ini ditutup dengan optimisme tinggi. Dengan dukungan penuh dari jajaran Advisory Board, visi DTSL FT UGM untuk menjadi pusat unggulan di tahun 2031 terasa semakin dekat. Kolaborasi yang erat antara dunia pendidikan dan industri konstruksi ini menjadi modal utama untuk membangun infrastruktur Indonesia yang lebih kokoh dan berkelanjutan. (Sumber: humas DTSL)





