Tripikon-S, Solusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk atasi Pencemaran Lingkungan

Sanitasi layak masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di perdesaan dan kawasan urban slum. Sekitar 17– 20% rumah tangga belum memiliki sanitasi aman (BPS, 2023). Selain itu, saat ini banyak industri rumah tangga dan kegiatan ekonomi masyarakat yang menghasilkan limbah cair tanpa penanganan yang memadai. Mulai dari industi makanan seperti pembuatan tahu dan makanan olahan lainnya, peternakan skala kecil, pengolahan sampah oleh warga, dsb. Polusi yang dihasilkan sulit untuk dikelola karena menyebar (menjadi non- point pollution sources). Apabila hal ini tidak ditangani, maka pencemaran kegiatan usaha UMKM akan menjadi bencana lingkungan bagi warga masyarakat sekitar. Secara akumulatif akan menjadi bencana lingkungan bagi kawasan. Polusi perairan menyebabkan penurunan oksigen terlarut yang dapat menyebabkan kematian ikan. Polusi udara menyebabkan bau yang tidak sedap yang tentunya mengganggu dan menurunkan daya tarik wisata kawasan tersebut, selain mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar. Selain itu polusi estetis juga dapat menurunkan daya tarik wisata kasawan kampung wisata yang menjadi sasaran program ini.

Salah satu masalah yang banyak kita jumpai adalah masalah limbah kandang dari peternakan unggas. Limbah dari kandang tersebut sebagian dapat diproses menjadi kompos, dan limbah cairnya pada umumnya dibuang ke lingkungan dan dapat mencemari sungai dan air tanah. Untuk mengatasi hal tersebut, UGM hadir dengan solusi Tripikon-S dan micro-bubble generator. Perangkat Tripikon-S dikembangkan oleh almarhum Prof. Hardjoso Prodjopangarso pada awal tahun 1990an untuk mengatasi masalah sanitasi di lahan transmigrasi pasang-surut. Di daerah dengan air tanah tinggi tidak dapat dibangun septic-tank untuk menangani limbah dari toilet. Teknologi Tripikon-S merupakan alternatif sistem septik untuk mengolah limbah toilet dan limbah cair rumah tangga. Nama tersebut berasal adri 3 (tri) pipa konsentris – septik, karena struktur alat tersebut terdiri dari 3 buah pila yang dipasang secara konsentris. Pipa bagian dalam berfungsi untuk mengolah tinja secara anaerobik, limbah cair yang sudah matang akan keluar ke pipa luar yang berdimensi besar untuk menjalani proses aerobik. Melalui proses tersebut, maka efluen cairan yang keluar dari tripikon-S sudah aman untuk masuk ke badan air atau diresapkan ke sumur resapan. 

Melalui hibah PTTI – program transfer teknologi dan inovasi, Ditjen Iptek, Kementerian Diktisaintek, tim UGM yang diketuai oleh Nizam mengembangkan sistem tripikon-S dilengkapi dengan aerasi micro-bubble generator untuk mengatasi limbah kandang ternak bebek di Kawasan Kampung Wisata Wirosobo dan kebun Dakwah Wirosobo. Saat ini kelompok masyarakat  di Wirosobo mengembangkan usaha peternakan bebek serta perkebunan yang sekaligus merupak destinasi wisata edukasi. Sayang limbah dari kandang ternak saat ini belum diproses dengan baik sehingga menimbulkan masalah bau, estetika dan pencemaran pada sungai di sekitarnya. Kehadiran Tripikon-S dihadirkan untuk mengatasi masalah tersebut. Tripikon-S telah berhasil diterapkan di kawasan transmigrasi daerah pasang surut, perkampungan padat, dan kampung nelayan seperti di Morodemak. Penanganan limbah cari dari peternakan bebek dan kebun dakwah diharapkan berkontribusi bagi pancapaian SDGs 3 – kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, SDG 4 – pendidikan lingkungan yang baik, dan SDG – 6 menyelamatkan air bagi semua, dan SDG – 11 kota dan masyarakat yang lestari. PKM UGM Wirosobo dilaksanakan oleh grup riset KEREN (Kelompok Riset Eco-Engineering) yang terdiri dari Nizam (DTSL), Deendarlianto (DTMI), Sri Puji Saraswati (DTSL) dan Kurnia Widiastuti (DTAP). Semoga kehadiran teknologi tepat guna tersebut dapat mewujudkan lingkungan yang sehat sekaligus tempat belajar bagi pelajar yang berwisata di Kebun Dakwah dan Peternakan Bebek Wirosobo. (Sumber: Prof. Nizam/humas DTSL)

© DTSL - UNIVERSITAS GADJAH MADA