
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (DTSL FT UGM) turut mendukung pelaksanaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-43 dan Kongres ke-15 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) yang diselenggarakan pada 5 September 2026 di Gedung Baru (B) DTSL FT UGM, Yogyakarta. Dalam kegiatan tersebut, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hadir sebagai keynote speaker dengan membawakan materi berjudul “Peran Informasi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika sebagai Akselerator Transformasi Pengelolaan SDA”.
Dalam pemaparannya, Prof. Faisal menyoroti tantangan pengelolaan sumber daya air di tengah perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Ia menjelaskan bahwa air merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung dari atmosfer hingga laut, sehingga perubahan atau risiko yang terjadi pada satu bagian dapat berdampak pada bagian lainnya. Informasi mengenai curah hujan, evapotranspirasi, limpasan, dan perubahan cadangan air menjadi penting dalam memahami kondisi sumber daya air secara menyeluruh. Materi tersebut juga menyoroti peningkatan suhu di Indonesia serta dominasi bencana yang berkaitan dengan fenomena hidrometeorologi.
Lebih lanjut, Prof. Faisal memaparkan berbagai layanan BMKG yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan sumber daya air, mulai dari pengamatan dan prediksi cuaca serta iklim hingga sistem peringatan dini. BMKG mengembangkan jaringan pemantauan dan diseminasi informasi yang terintegrasi, termasuk pemanfaatan data dari Automatic Weather Station (AWS), radar cuaca, satelit, serta teknologi komputasi dan kecerdasan artifisial. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung perencanaan, kesiapsiagaan, dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya air.


Salah satu pendekatan yang disampaikan dalam materi adalah Impact Based Forecast (IBF), yaitu transformasi layanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika dari penyedia data menjadi penyedia informasi yang mendukung keputusan dan tindakan. Melalui pendekatan ini, data cuaca dan iklim tidak hanya digunakan untuk menjawab kondisi cuaca, tetapi juga diterjemahkan menjadi informasi mengenai potensi dampak dan rekomendasi aksi dini. Dalam pengelolaan sumber daya air, integrasi data cuaca, CCTV, AWS, radar, dan tinggi muka air dapat membantu memberikan gambaran kondisi terkini serta potensi dampak untuk mendukung keputusan operasional.
Prof. Faisal juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan lintas sektor dalam memanfaatkan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika untuk pengelolaan sumber daya air. Pengembangan ke depan mencakup interoperabilitas data antara BMKG dengan berbagai lembaga terkait, penyusunan layanan informasi iklim secara bersama dengan akademisi dan praktisi HATHI, serta pengembangan Decision Support System yang terhubung dengan sistem operasional pengelola air. Pemaparan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam PIT ke-43 dan Kongres ke-15 HATHI sebagai ruang pertemuan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air di Indonesia.