
Yogyakarta, 22 Oktober 2026 – Harga material naik, jadwal molor, desain berubah: ketidakpastian adalah keseharian proyek konstruksi. Karena itu, kemampuan mengelola risiko kini menjadi kompetensi inti insan konstruksi. Semangat inilah yang diusung Workshop “Strategi Praktis Manajemen Risiko untuk Proyek Konstruksi”, kolaborasi ICONIC 2026 dengan Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA), yang digelar Kamis (22/10) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada.
Workshop Continuing Professional Development (CPD) yang diikuti 47 peserta ini menghadirkan Dr. Fandhy Haristha Siregar, M.Kom., Kepala Bidang Sinergi IRMAPA, dan dipandu Prof. Dr.-Tech. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., Guru Besar Perencanaan Transportasi sekaligus Kepala Laboratorium Manajemen Proyek Konstruksi (MPK) Universitas Gadjah Mada.
Fandhy membawa pengalaman hampir tiga dekade di bidang tata kelola, manajemen risiko, dan audit internal. Saat ini ia menjabat Head of Information Security Governance di FWD Insurance Indonesia, mengajar di Pascasarjana Universitas Indonesia, dan memegang 16 sertifikasi profesional internasional. Sementara itu, Prof. Danang, pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dari tahun 2019-2023. Pengalamannya mengelola proyek infrastruktur berskala besar membuat diskusi workshop sangat dekat dengan tantangan nyata di lapangan
Dari Matriks Risiko ke Simulasi Monte Carlo
Workshop dibuka dengan fondasi konseptual: kerangka COSO Enterprise Risk Management, risk appetite dan risk tolerance, serta matriks likelihood–consequence lima tingkat yang mengukur dampak risiko pada aspek teknis, jadwal, dan biaya. Peserta juga diajak membedakan analisis risiko kualitatif, yang mengandalkan penilaian ahli, dengan analisis kuantitatif berbasis simulasi statistik.
Bagian yang paling ditunggu adalah praktik langsung. Setelah membandingkan empat software analisis risiko, yaitu Primavera Risk Analysis, Safran Risk, @RISK, dan RiskyProject, peserta mempraktikkan RiskyProject yang terintegrasi dengan Microsoft Project. Mereka menyusun estimasi durasi, membangun risk register, lalu menjalankan simulasi Monte Carlo ribuan iterasi untuk melihat peluang keterlambatan dan pembengkakan biaya proyek.
AI dan Mitigasi Sejak Dini
Fandhy juga memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk menyusun risk register proyek besar seperti jalan tol, pelabuhan, dan proyek EPC melalui prompt yang terstruktur. Meski begitu, hasil AI tetap harus divalidasi lewat diskusi tim proyek. AI mempercepat identifikasi risiko, sedangkan keputusan tetap berada di tangan para profesional.
Pesan kuncinya tegas: manajemen risiko harus dimulai sejak tahap perencanaan, saat kemampuan memengaruhi hasil proyek paling besar dan biaya mitigasi paling kecil. Peserta pun dibekali empat strategi respons risiko: menghindari (avoid), mengalihkan (transfer), mengendalikan (mitigate), dan menerima (accept). “Early risk management and mitigation builds better valued projects”, demikian salah satu pesan dalam materi workshop.
Rangkaian ICONIC 2026
Workshop IRMAPA merupakan satu dari enam workshop CPD ICONIC 2026, bersama workshop yang digelar dengan IAMKRI, Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia, GBCI, dan PRINCE2 Indonesia, serta workshop keselamatan konstruksi. Diselenggarakan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM pada 21–22 Oktober 2026 sebagai bagian dari GIFTS 2026, ICONIC mengusung tema “Sustainable and Disaster-Resilient Infrastructure for Climate Adaptation”. Rangkaian acaranya meliputi sesi pleno dengan pembicara dari Massey University, ETH Zurich, University of Tokyo, Hong Kong University, UGM, dan BMKG, Doctoral Research Forum, serta Industry Expo & Coffee Talk bersama mitra seperti WIKA, Waskita, PP, Adhi, Brantas Abipraya, Hutama Karya, Jasa Marga Group, dan United Tractors. (Sumber: humas DTSL)