Yogyakarta, 21 Oktober 2026 – Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Infrastructure and Construction Innovation Conference (ICONIC) 2026 pada 21–22 Oktober 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Mengusung tema “Sustainable and Disaster-Resilient Infrastructure for Climate Adaptation”, konferensi ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, praktisi, pemerintah, dan mitra internasional untuk mendorong pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan tangguh terhadap bencana.
Rangkaian kegiatan diawali dengan opening ceremony yang menghadirkan sambutan dari Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., dilanjutkan GKR Mangkubumi dan perwakilan Asian Development Bank (ADB) Indonesia Resident Mission. Pembukaan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026.


Salah satu agenda utama ICONIC 2026 adalah Plenary Session 1 bertajuk “Disaster Resilience: Challenges & Innovations”. Sesi ini menghadirkan empat pakar dari Massey University Selandia Baru, Universitas Gadjah Mada, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Diskusi dipandu oleh Ir. Vempi Satriya Adi Hendrawan, S.T., M.Env., Ph.D. dari UGM.
Mengawali sesi, Dr. Chandana Siriwardana dari Massey University, Selandia Baru, menekankan pentingnya perubahan pendekatan penanggulangan bencana dari respons setelah kejadian menuju pengurangan risiko dan pembangunan ketangguhan jangka panjang. Ia memaparkan bahwa investasi infrastruktur tangguh bencana memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Mengacu pada kajian World Bank, setiap satu dolar AS yang diinvestasikan pada infrastruktur tangguh di negara berkembang berpotensi menghasilkan manfaat sekitar empat dolar AS.
Sementara itu, Prof. Radianta Triatmadja dari UGM membahas pentingnya kesiapsiagaan serta pengembangan infrastruktur yang mendukung evakuasi secara aman. Melalui pendekatan evaluasi EVACUWARE, ia menunjukkan bahwa efektivitas evakuasi sangat dipengaruhi oleh kapasitas jalur penyelamatan, desain bangunan, serta perilaku masyarakat saat menghadapi kondisi darurat. Infrastruktur yang tangguh tidak cukup hanya kuat secara struktural, tetapi juga harus mampu mendukung keselamatan penggunanya.
Perspektif berbeda disampaikan Dr. Ardhya Nareswari dari UGM, yang menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam rekonstruksi hunian pascabencana. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi konstruksi dan material lokal perlu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, keterjangkauan biaya, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, proses pemulihan tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih aman, tetapi juga komunitas yang lebih tangguh.
Melengkapi diskusi, Dr. Teguh Rahayu, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, memaparkan tantangan kebencanaan Indonesia sekaligus inovasi teknologi mitigasi yang terus dikembangkan. Berdasarkan data BNPB dalam materi paparannya, tercatat 20.112 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2022 hingga September 2026.
BMKG turut memperkenalkan inovasi sistem pemantauan multibahaya dan pengembangan sistem peringatan tsunami nontektonik berbasis pengamatan tinggi muka laut secara langsung. Selain inovasi teknologi, BMKG menekankan pentingnya pendekatan early warning to early action, yakni memastikan informasi peringatan dini dapat segera diterjemahkan menjadi tindakan penyelamatan masyarakat.
Plenary Session 1 ICONIC 2026 menegaskan bahwa ketangguhan infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi dan rekayasa konstruksi, tetapi juga oleh kesiapsiagaan, kebijakan berbasis risiko, serta keterlibatan masyarakat. Kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman bencana dan dampak perubahan iklim yang semakin kompleks.
Selain sesi pleno, ICONIC 2026 juga menghadirkan doctoral research forum, workshop bersama mitra industri dan organisasi profesi, serta industry expo and coffee talk yang mempertemukan inovasi akademik dengan kebutuhan dunia industri.
Melalui ICONIC 2026, UGM mendorong penguatan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan mitra internasional untuk menghasilkan solusi pembangunan infrastruktur yang lebih aman, adaptif, dan berkelanjutan bagi Indonesia. (Sumber: humas DTSL)