Tim DTSL FT UGM Lakukan Assessment Bangunan Publik Pascagempa Bersama DPUPR Manggarai dan Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng

Ruteng, NTT – Setelah menyelenggarakan pelatihan penggunaan aplikasi Rapid Assessment, tim Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) Fakultas Teknik UGM melanjutkan kegiatan dengan melakukan assessment lapangan pada sejumlah bangunan publik terdampak gempa di Kabupaten Manggarai.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 2 – 6 September 2026 oleh Dr. Angga Trisna Yudhistira, Dr. Cecep Pratama, dan Andika Monanta Emilidardi, M.Eng., bekerja sama dengan Dinas PUPR Kabupaten Manggarai serta didukung oleh relawan mahasiswa dari Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng.

Assessment difokuskan pada bangunan-bangunan yang sebelumnya belum memperoleh pemeriksaan teknis. Melalui aplikasi Rapid Assessment, tim melakukan inventarisasi kerusakan, dokumentasi visual, serta pencatatan kondisi bangunan secara digital sehingga data dapat dihimpun dan dipantau secara terpusat.

Selain inspeksi visual, tim juga melaksanakan serangkaian pemeriksaan teknis untuk memperoleh informasi yang lebih komprehensif mengenai kondisi struktur bangunan. Pengukuran lebar retak dilakukan menggunakan micro crack gauge untuk mengetahui tingkat keparahan kerusakan pada elemen struktural. Pengujian mutu beton permukaan juga dilakukan menggunakan Schmidt Hammer Test guna memperoleh gambaran awal kualitas beton eksisting tanpa merusak elemen bangunan.

Pada salah satu gedung bertingkat tiga, tim melakukan pemeriksaan deformasi bangunan menggunakan total station untuk mengidentifikasi kemungkinan kemiringan atau pergeseran struktur akibat guncangan gempa. 

Selain bangunan publik umum, tim juga melakukan pengamatan awal terhadap beberapa bangunan di lingkungan UNIKA Santu Paulus Ruteng. Hasil inspeksi menunjukkan adanya keretakan pada balok dan kolom, kerusakan pada sambungan balok-kolom, serta kerusakan dinding yang pada beberapa lokasi telah mengalami keruntuhan. Berdasarkan temuan tersebut, tim merekomendasikan pembatasan akses sementara dan pelaksanaan assessment lanjutan untuk mengevaluasi kapasitas struktur yang masih tersisa.

Salah satu metode yang direkomendasikan adalah pengujian mikrotremor, yang dapat digunakan untuk mengevaluasi karakteristik dinamik bangunan dan memperkirakan kapasitas seismik pascagempa. Hasil evaluasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar dalam menentukan apakah bangunan masih layak dipertahankan melalui rehabilitasi dan penguatan, atau memerlukan penanganan yang lebih lanjut. (Sumber: humas DTSL)