Pengukuhan Prof. Bambang Agus Kironoto

Melihat manfaat yang dapat diperoleh, Indonesia tampaknya masih membutuhkan banyak waduk dan bendungan untuk pembangkit listrik dan pemenuhan kebutuhan air irigasi. Dua kebutuhan mendasar masyarakat tersebut dinilai mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Dibandingkan dengan negara-negara di Asia, seperti Cina, India, dan Jepang, jumlah bendungan yang dimiliki Indonesia masih jauh dari mencukupi. Dari 128 waduk dan bendungan yang dimiliki, baru sekitar 10% yang mampu memenuhi kebutuhan air irigasi teknis dan 14,2% untuk energi pembangkit listrik PT PLN. “Saat ini, Cina menjadi negara dengan jumlah waduk dan bendungan terbesar di dunia, yaitu sebanyak 25.800, disusul Amerika Serikat 8.724, Jepang 2.641, dan India 2.451,” papar Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto di Balai Senat UGM, Rabu (7/4), saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik UGM.

Dengan pidato berjudul “Pengelolaan Sedimentasi Waduk dalam Konteks Pembangunan Sumber Daya Air Berkelanjutan”, Ketua Pengelola Program Magister dan Doktor Program Studi Teknik Sipil UGM ini menjelaskan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, Indonesia dalam waktu dekat akan memiliki beberapa bendungan baru. Bendungan yang dimaksud, di antaranya adalah bendungan Jatigede di Jawa Barat, Karian di Banten, dan Benel di Bali.

Di samping itu, pemerintah juga merencanakan pembangunan beberapa bendungan lain, yakni Beriwit dan Marangkayu di Kalimantan Timur, Ponre-Ponre di Sulawesi, Haekrit di Nusa Tenggara Timur, dan Kauliling di Nanggroe Aceh Darussalam. “Selain itu, pemerintah merencanakan pembangunan serupa, berupa Bendungan Upper Cisokan Pumped Storage di Jawa Barat dan Bendungan PLTA Asahan 3 di Sumatra Utara,” ujar pria kelahiran Kudus, 13 Agustus 1963 ini.

Menurut Bambang Kironoto, hasil penelitian terhadap waduk di dunia menunjukkan laju sedimentasinya sering kali lebih cepat dari yang direncanakan. Data statistik terhadap sebelas waduk di India dengan kapasitas lebih besar dari 1 km³ memperlihatkan hampir semua waduk terisi sedimen lebih cepat dari yang direncanakan, dengan rentang 130-1.650%.

Kejadian serupa terjadi pada waduk-waduk di Indonesia, seperti Waduk Pangsar Sudirman (Mrica), Saguling, dan Wonogiri. Waduk Wonogiri bahkan telah mendapat sorotan media massa akhir-akhir ini sehubungan dengan terjadinya sedimentasi waduk yang terlalu cepat. Waduk Wonogiri yang semula direncanakan mampu beroperasi selama 100 tahun, ternyata baru beroperasi selama 20 tahunan telah mengalami permasalahan. “Selama 22 tahun, dari tahun 1982 sampai 2004, laju sedimentasi Waduk Wonogiri rata-rata mencapai 7,5 juta m³ per tahun, jauh lebih besar dari yang direncanakan, yang diperkirakan 1,2 juta m³ per tahun,” urainya.

Di samping faktor kegagalan kegiatan konservasi di daerah tangkapan air waduk, penyebab lain adalah ketidakakuratan prediksi sedimen dengan kenyataan terkait dengan ketidakcukupan data yang digunakan, baik karena perhitungan sedimen yang terlalu pendek atau memang karena kualitas yang kurang akurat. Dalam SNI 03-6737-2002 tentang metode perhitungan awal laju sedimentasi waduk di Indonesia disebutkan setidaknya dibutuhkan data sedimen minimal 10 tahun agar dapat mengestimasi dengan baik sedimen yang masuk ke dalam waduk.

Pengelolaan daerah tangkapan air, kata suami dr. Nunuk Sutiyati ini, sering kali dianjurkan sebagai cara terbaik untuk mengatasi permasalahan sedimentasi waduk. Penekanan laju erosi di daerah tangkapan waduk ini dapat dilakukan dengan teknik konservasi, baik secara mekanis maupun vegetatif, atau kombinasi dari keduanya.

“Penekanan laju erosi di daerah tangkapan akan berhasil dengan baik bila gangguan aktivitas manusia terhadap lahan di kawasan hulu dapat dikurangi atau ditekan serendah mungkin. Namun, justru yang terjadi pemanfaatan lahan bertambang seiring pembangunan bendungan baru yang diikuti dengan pembukaan lahan untuk akses jalan konstruksi, pembukaan lahan untuk pengembangan kawasan wisata, dan lain-lain,” terang ayah Helvina Vika Utami dan Irfan Dwiki Bhaswara ini. (Humas UGM/ Agung)